Artikel Permata

Artikel Permata

Artikel Permata

Perempuan-Perempuan Pemberani di dalam Negana
Perempuan-Perempuan Pemberani di dalam Negana
Perempuan-Perempuan Pemberani di dalam Negana
Perempuan-Perempuan Pemberani di dalam Negana

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Suasana Permata edisi kesepuluh ini ditandai dengan cuaca terik sejak pagi hingga sore hari. Suhu udara pada sore itu mencapai 31 derajat Celsius. Panasnya terasa menyengat, tanpa dihiasi awan sedikit pun. Langit begitu cerah. Gunung Merapi pun seolah bersolek, tampak berdiri tegak dan megah di sebelah utara. Sementara di ujung lainnya, kawannya, Anak Krakatau, sedang punya acaranya sendiri. Ternyata pada pekan yang sama hingga reportase ini ditulis, tercatat ada lima gunung api lain yang sedang aktif memiliki hajat serupa, yaitu Semeru, Lewotobi Laki-Laki, Ili Lewotolok, Ibu, dan Sinabung.

Suasana Permata edisi kesepuluh ini ditandai dengan cuaca terik sejak pagi hingga sore hari. Suhu udara pada sore itu mencapai 31 derajat Celsius. Panasnya terasa menyengat, tanpa dihiasi awan sedikit pun. Langit begitu cerah. Gunung Merapi pun seolah bersolek, tampak berdiri tegak dan megah di sebelah utara. Sementara di ujung lainnya, kawannya, Anak Krakatau, sedang punya acaranya sendiri. Ternyata pada pekan yang sama hingga reportase ini ditulis, tercatat ada lima gunung api lain yang sedang aktif memiliki hajat serupa, yaitu Semeru, Lewotobi Laki-Laki, Ili Lewotolok, Ibu, dan Sinabung.

Suasana Permata edisi kesepuluh ini ditandai dengan cuaca terik sejak pagi hingga sore hari. Suhu udara pada sore itu mencapai 31 derajat Celsius. Panasnya terasa menyengat, tanpa dihiasi awan sedikit pun. Langit begitu cerah. Gunung Merapi pun seolah bersolek, tampak berdiri tegak dan megah di sebelah utara. Sementara di ujung lainnya, kawannya, Anak Krakatau, sedang punya acaranya sendiri. Ternyata pada pekan yang sama hingga reportase ini ditulis, tercatat ada lima gunung api lain yang sedang aktif memiliki hajat serupa, yaitu Semeru, Lewotobi Laki-Laki, Ili Lewotolok, Ibu, dan Sinabung.

Suasana Permata edisi kesepuluh ini ditandai dengan cuaca terik sejak pagi hingga sore hari. Suhu udara pada sore itu mencapai 31 derajat Celsius. Panasnya terasa menyengat, tanpa dihiasi awan sedikit pun. Langit begitu cerah. Gunung Merapi pun seolah bersolek, tampak berdiri tegak dan megah di sebelah utara. Sementara di ujung lainnya, kawannya, Anak Krakatau, sedang punya acaranya sendiri. Ternyata pada pekan yang sama hingga reportase ini ditulis, tercatat ada lima gunung api lain yang sedang aktif memiliki hajat serupa, yaitu Semeru, Lewotobi Laki-Laki, Ili Lewotolok, Ibu, dan Sinabung.

UPDATE TERBARU

UPDATE TERBARU

UPDATE TERBARU

UPDATE TERBARU

Baca artikel lainnya

Baca artikel lainnya

Baca artikel lainnya

Baca artikel lainnya

Permata: Monisme (Film oleh Riar Rizaldi | www.ruasbambunusa.com)
Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi
Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi
Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi
Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi
Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

Siapa yang berbicara atas nama gunung dan siapa yang mendengarkannya? Pertanyaan ini seolah muncul dari film Monisme pasca sesi pemutaran pada Sabtu, 17 Mei 2025 lalu, di Ruas Bambu Nusa. Ruang berbasis instalasi bambu yang dirancang sebagai ekosistem kreatif dan reflektif ini menjadi tempat dimana film ini menjalar dan menjadi lebih dari tontonan. Ia mengantarkan pada percakapan dalam sesi diskusi, memperpanjang pengalaman menonton menjadi laku perenungan bersama.

Siapa yang berbicara atas nama gunung dan siapa yang mendengarkannya? Pertanyaan ini seolah muncul dari film Monisme pasca sesi pemutaran pada Sabtu, 17 Mei 2025 lalu, di Ruas Bambu Nusa. Ruang berbasis instalasi bambu yang dirancang sebagai ekosistem kreatif dan reflektif ini menjadi tempat dimana film ini menjalar dan menjadi lebih dari tontonan. Ia mengantarkan pada percakapan dalam sesi diskusi, memperpanjang pengalaman menonton menjadi laku perenungan bersama.

Siapa yang berbicara atas nama gunung dan siapa yang mendengarkannya? Pertanyaan ini seolah muncul dari film Monisme pasca sesi pemutaran pada Sabtu, 17 Mei 2025 lalu, di Ruas Bambu Nusa. Ruang berbasis instalasi bambu yang dirancang sebagai ekosistem kreatif dan reflektif ini menjadi tempat dimana film ini menjalar dan menjadi lebih dari tontonan. Ia mengantarkan pada percakapan dalam sesi diskusi, memperpanjang pengalaman menonton menjadi laku perenungan bersama.

Siapa yang berbicara atas nama gunung dan siapa yang mendengarkannya? Pertanyaan ini seolah muncul dari film Monisme pasca sesi pemutaran pada Sabtu, 17 Mei 2025 lalu, di Ruas Bambu Nusa. Ruang berbasis instalasi bambu yang dirancang sebagai ekosistem kreatif dan reflektif ini menjadi tempat dimana film ini menjalar dan menjadi lebih dari tontonan. Ia mengantarkan pada percakapan dalam sesi diskusi, memperpanjang pengalaman menonton menjadi laku perenungan bersama.

You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama | Permata (www.ruasbambunusa.com)
You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama
You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama
You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama
You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama
You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

Siapa yang akan merawat ingatan ketika yang menorehkannya sudah tak mampu lagi bercerita? Pertanyaan itu seolah menggantung di udara Ruas Bambu Nusa pada sore 22 Juni 2025, seusai film dokumenter You & I berdurasi 72 menit selesai diputar. Karya sutradara Fanny Chotimah ini tak sebatas menjadi tontonan, tetapi sebuah pengalaman yang mengajak penonton untuk menyelami lapisan ingatan, perawatan, dan ketabahan dari sosok sepasang sahabat.

Siapa yang akan merawat ingatan ketika yang menorehkannya sudah tak mampu lagi bercerita? Pertanyaan itu seolah menggantung di udara Ruas Bambu Nusa pada sore 22 Juni 2025, seusai film dokumenter You & I berdurasi 72 menit selesai diputar. Karya sutradara Fanny Chotimah ini tak sebatas menjadi tontonan, tetapi sebuah pengalaman yang mengajak penonton untuk menyelami lapisan ingatan, perawatan, dan ketabahan dari sosok sepasang sahabat.

Siapa yang akan merawat ingatan ketika yang menorehkannya sudah tak mampu lagi bercerita? Pertanyaan itu seolah menggantung di udara Ruas Bambu Nusa pada sore 22 Juni 2025, seusai film dokumenter You & I berdurasi 72 menit selesai diputar. Karya sutradara Fanny Chotimah ini tak sebatas menjadi tontonan, tetapi sebuah pengalaman yang mengajak penonton untuk menyelami lapisan ingatan, perawatan, dan ketabahan dari sosok sepasang sahabat.

Siapa yang akan merawat ingatan ketika yang menorehkannya sudah tak mampu lagi bercerita? Pertanyaan itu seolah menggantung di udara Ruas Bambu Nusa pada sore 22 Juni 2025, seusai film dokumenter You & I berdurasi 72 menit selesai diputar. Karya sutradara Fanny Chotimah ini tak sebatas menjadi tontonan, tetapi sebuah pengalaman yang mengajak penonton untuk menyelami lapisan ingatan, perawatan, dan ketabahan dari sosok sepasang sahabat.

Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi | Permata (www.ruasbambunusa.com)
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Permata volume ke-4 ini terasa sangat istimewa dan spesial. Momen yang tepat untuk membicarakan isu tambang dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pasalnya, film dokumenter karya sutradara Bani Nasution hadir dalam suasana khidmat di bulan kemerdekaan, Agustusan, menjadi pemicu untuk membicarakan lebih lanjut peran pemerintah dan negara dalam isu pengelolaan SDA.

Permata volume ke-4 ini terasa sangat istimewa dan spesial. Momen yang tepat untuk membicarakan isu tambang dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pasalnya, film dokumenter karya sutradara Bani Nasution hadir dalam suasana khidmat di bulan kemerdekaan, Agustusan, menjadi pemicu untuk membicarakan lebih lanjut peran pemerintah dan negara dalam isu pengelolaan SDA.

Permata volume ke-4 ini terasa sangat istimewa dan spesial. Momen yang tepat untuk membicarakan isu tambang dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pasalnya, film dokumenter karya sutradara Bani Nasution hadir dalam suasana khidmat di bulan kemerdekaan, Agustusan, menjadi pemicu untuk membicarakan lebih lanjut peran pemerintah dan negara dalam isu pengelolaan SDA.

Permata volume ke-4 ini terasa sangat istimewa dan spesial. Momen yang tepat untuk membicarakan isu tambang dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pasalnya, film dokumenter karya sutradara Bani Nasution hadir dalam suasana khidmat di bulan kemerdekaan, Agustusan, menjadi pemicu untuk membicarakan lebih lanjut peran pemerintah dan negara dalam isu pengelolaan SDA.

Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian | Permata (www.ruasbambunusa.com)
Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian
Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian
Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian
Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian
Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

Di kota-kota yang kian padat, kematian bukan lagi hanya perkara duka, melainkan juga urusan ruang. Lahan makam yang semakin sempit membuat keluarga berduka harus berhadapan dengan konflik, biaya, dan aturan administratif. Pada titik ini, kematian tidak hanya menjadi akhir bagi yang pergi, tetapi juga ujian bagi yang hidup: apakah masih ada ruang untuk memulangkan mereka dengan layak, atau justru kepulangan itu kehilangan maknanya?

Di kota-kota yang kian padat, kematian bukan lagi hanya perkara duka, melainkan juga urusan ruang. Lahan makam yang semakin sempit membuat keluarga berduka harus berhadapan dengan konflik, biaya, dan aturan administratif. Pada titik ini, kematian tidak hanya menjadi akhir bagi yang pergi, tetapi juga ujian bagi yang hidup: apakah masih ada ruang untuk memulangkan mereka dengan layak, atau justru kepulangan itu kehilangan maknanya?

Di kota-kota yang kian padat, kematian bukan lagi hanya perkara duka, melainkan juga urusan ruang. Lahan makam yang semakin sempit membuat keluarga berduka harus berhadapan dengan konflik, biaya, dan aturan administratif. Pada titik ini, kematian tidak hanya menjadi akhir bagi yang pergi, tetapi juga ujian bagi yang hidup: apakah masih ada ruang untuk memulangkan mereka dengan layak, atau justru kepulangan itu kehilangan maknanya?

Di kota-kota yang kian padat, kematian bukan lagi hanya perkara duka, melainkan juga urusan ruang. Lahan makam yang semakin sempit membuat keluarga berduka harus berhadapan dengan konflik, biaya, dan aturan administratif. Pada titik ini, kematian tidak hanya menjadi akhir bagi yang pergi, tetapi juga ujian bagi yang hidup: apakah masih ada ruang untuk memulangkan mereka dengan layak, atau justru kepulangan itu kehilangan maknanya?