
Suasana Permata edisi kesepuluh ini ditandai dengan cuaca terik sejak pagi hingga sore hari. Suhu udara pada sore itu mencapai 31 derajat Celsius. Panasnya terasa menyengat, tanpa dihiasi awan sedikit pun. Langit begitu cerah. Gunung Merapi pun seolah bersolek, tampak berdiri tegak dan megah di sebelah utara. Sementara di ujung lainnya, kawannya, Anak Krakatau, sedang punya acaranya sendiri. Ternyata pada pekan yang sama hingga reportase ini ditulis, tercatat ada lima gunung api lain yang sedang aktif memiliki hajat serupa, yaitu Semeru, Lewotobi Laki-Laki, Ili Lewotolok, Ibu, dan Sinabung.
Gunung-gunung memiliki perspektifnya sendiri, begitu pula dengan lempeng bumi, lautan, pepohonan, sungai-sungai, dan alam raya yang terhampar luas ini. Kita sebagai manusia pun mempunyai sudut pandang masing-masing; ada yang menyebutnya bencana alam, ada pula yang menganggapnya sebagai peristiwa alam biasa yang wajar terjadi. Sore itu, entah kita menyadarinya atau tidak, kita dipertemukan dengan dua topik yang saling bertautan: peristiwa alam dan kehidupan manusia. Di luar sana gunung-gunung sedang unjuk gigi, sementara di ruangan ini kita memperbincangkan gempa dan tsunami Palu tahun 2018 beserta dampaknya yang luar biasa bagi warga di sana.
Film yang diputar berjudul Negana karya Vania Qanita Damayanti. Film berdurasi 24 menit produksi tahun 2025 ini mengisahkan seorang anak perempuan berusia 14 tahun bernama Gana yang dipaksa menikah. Berlatar belakang pascagempa, tsunami, dan likuifaksi di Sulawesi Tengah (Palu), Gana tinggal bersama paman dan tantenya di sebuah hunian sementara. Akibat kondisi ekonomi yang hancur porak-poranda, mereka memaksa Gana menikah dengan seorang duda dengan harapan taraf hidup keluarganya membaik. Tak tinggal diam, Gana berencana untuk kabur. Namun, setiap kali ia hendak melarikan diri, gempa selalu datang menerjang.
Gempa…
Negana adalah potret bagaimana peristiwa alam membawa dampak sosial yang begitu kompleks dan pelik. Seorang anak perempuan korban gempa yang telah kehilangan orang tuanya harus menumpang hidup pada keluarga dekat. Ia dipaksa melakukan sesuatu di luar kehendaknya tanpa diberi hak untuk mengambil keputusan. Ia hidup di tengah dunia orang dewasa yang tak lagi mendengarkan suaranya. Boleh jadi, berbagai peristiwa alam memiliki fungsinya sendiri di sini, yakni menyibak sisi-sisi tersembunyi dari sifat manusia. Di situlah ujian dan rasa kemanusiaan kita dipertaruhkan.
Pukul 15.30 WIB lewat sedikit, pemutaran film Negana dimulai. Sekitar 30 penonton hadir memenuhi ruangan. Sebagian besar dari mereka datang berombongan bersama teman maupun keluarga. Berdasarkan pengamatan sekilas, para penonton menyimak dengan khidmat dan serius hingga tanpa terasa durasi 24 menit film pun usai.
Acara kemudian berlanjut ke fase berikutnya, yaitu sesi bincang-bincang. Ada jeda sekitar 5 menit sebelum diskusi dimulai. Penjedaan singkat ini bertujuan agar penonton memiliki waktu untuk mencerna tontonan dan mengalihkan perhatian dari screen time ke sesi diskusi. Sama seperti edisi Permata sebelumnya, sesi kali ini pun tidak dihadiri oleh pembuat film maupun perwakilannya. Kendati demikian, hal tersebut sama sekali tidak menghambat jalannya diskusi. Pembahasan berfokus pada kegiatan ngrasani film serta mewadahi aneka pandangan penonton yang bersifat reflektif, kritis, maupun temuan informasi baru terkait topik film. Perbincangan mengarah pada unsur intrinsik film (kreativitas) hingga wacana yang terkandung di dalamnya. Sebagai pemantik, moderator membuka diskusi dengan mempertanyakan desain film Negana, sasaran utama film ini, kesesuaian ide dan topik dengan format yang dipilih, serta sejauh mana pesan film berhasil tersampaikan.
Pandangan pertama datang dari Teddy. Ia meyakini bahwa meskipun Negana adalah karya fiksi, ceritanya berakar pada fakta sehingga ada banyak hal yang bisa dipelajari, salah satunya mengenai mitigasi pernikahan usia dini. Pada regulasi undang-undang pernikahan, batas usia minimal yang diperbolehkan menikah telah dinaikkan dari 16 tahun menjadi 19 tahun. Namun dalam realitasnya, aturan ini sangat sulit diterapkan. Masih marak terjadi kasus pernikahan usia dini di berbagai daerah, terutama di wilayah pelosok. Teddy, yang menekuni studi kebijakan publik, menambahkan secara ironis bahwa tantangan terbesar justru terletak pada kultur setempat yang bersilang-kelindan dengan faktor ekonomi dan pemahaman agama. “Secara aturan sudah ada mitigasinya, tetapi ternyata tidak cukup. Kita perlu mengusahakannya bersama-sama mulai dari lingkup terkecil kita,” ujarnya.
Pada akhir paparannya, Teddy turut memberi tanggapan dari segi teknis, “Filmnya sudah cukup baik, tetapi storytelling-nya kurang rapi dan sinematografinya kurang menangkap kondisi atau situasi bencana.”
Diskusi berlanjut ke penonton lain bernama Zaki. Ia merasa terusik oleh tutur kata salah satu tokoh yang terdengar menggunakan bahasa Jawa. Terdengar ucapan kata “yowes” yang terkesan tidak fasih, yang diucapkan oleh tokoh Parno saat berdialog dengan paman Gana pada adegan lamaran. Rasa penasaran ini memicu berbagai pertanyaan di dalam forum: Apakah hal tersebut merupakan penokohan tiga dimensi dari karakter tersebut? Apakah pemerannya warga lokal yang terpengaruh bahasa Jawa? Apakah naskahnya memang tertulis demikian, atau sekadar ketidaksengajaan/keseleo lidah? Wallahualam. Meski bagi sebagian orang hal ini terkesan sepele, penggunaan bahasa dan dialog sangatlah krusial karena Negana mengambil latar ruang dan waktu yang spesifik. Penggunaan bahasa menjadi unsur yang meneguhkan konsep cerita, sehingga pengamatan kecil ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Rasa ingin tahu Zaki tidak berhenti di situ. Ia kemudian bertanya kepada programmer Permata, Bagas, mengenai alasan dan substansi di balik keputusan memilih serta memutar film Negana pada edisi kali ini. Bagas menjelaskan awal mulanya ia mengenal Negana saat ajang JAFF 2025. Ia merasa tersentuh dan bersimpati dengan kondisi riil di lokasi bencana –tentang bagaimana pernikahan usia dini nyata terjadi serta faktor sosiologis pascabencana yang melatarbelakanginya. Bagas berharap film ini dapat menjadi ruang perjumpaan bagi penonton baru di Permata sehingga ikhwal tersebut dapat diperbincangkan secara lebih luas.
Gayung pun bersambut. Ibu Rahma mengangkat tangan dan turut berbagi pengalaman terkait peristiwa bencana tersebut. Berdasarkan kesaksiannya di lapangan sebagai relawan bidan kala itu, kondisi warga di tempat pengungsian pascabencana jauh dari kata stabil; semuanya serba krisis dan carut-marut. Saat itu, ia menemukan banyak kasus pemerkosaan, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), hingga kekerasan berbasis gender. Kasus KTD, misalnya, timbul seiring meningkatnya kebutuhan seksual pasangan suami-istri yang tidak diimbangi dengan kemudahan akses alat kontrasepsi. Fenomena ini tidak hanya dialami pasangan suami-istri, tetapi juga terjadi pada kalangan remaja hingga memicu kehamilan di luar nikah.
Sebagian besar pengungsi tinggal di hunian sementara (huntara) dengan kondisi yang jauh dari ideal. Jarak antarsekat ruangan amat sempit dan dihuni secara berbaur oleh orang-orang dengan beragam latar belakang. Ruang aman bagi anak-anak tidak memadai, begitu pula ruang privat bagi pasangan suami-istri. Akibatnya, hubungan suami-istri yang dilakukan di ruangan sempit tersebut berisiko disaksikan oleh anak-anak yang belum saatnya menerima paparan semacam itu. Pengalaman Ibu Rahma menegaskan bahwa kelompok perempuan dan anak-anak adalah pihak yang paling dirugikan dalam situasi pascabencana.
Komentar berlanjut dari Ama. Saat menyaksikan Negana, ia teringat pada film Yuni karya Kamila Andhini. Kedua film tersebut mengusung tema yang senada, yakni perjuangan seorang perempuan untuk keluar dari belenggu permasalahan hidup. Bahkan, keduanya sama-sama menggunakan nama karakter utama sebagai judul film. Walau berbeda durasi, keduanya menyodorkan gagasan tentang ketangguhan perempuan dalam melawan dan menentukan jalan hidupnya sendiri.
Selain membagikan impresi tersebut, Ama memberikan pendapatnya mengenai format film Negana. Menurutnya, isu ini akan sangat sulit diangkat apabila menggunakan pendekatan dokumenter. Ia membayangkan tantangan besar dalam pemilihan subjek dokumenter yang tepat serta keharusan menjaga kenyamanan subjek mengingat isunya sangat sensitif. Meski rentang waktu peristiwa dan masa produksi sudah berjarak cukup jauh, jika subjek tidak bersedia terbuka, pembuat film tidak dapat melangkah lebih jauh. Belum lagi rumitnya proses penelusuran dan verifikasi data faktual terkait lokasi, kondisi sosial terkini, hingga pihak-pihak lain yang terlibat. Ama menilai format fiksi memberi keleluasaan bagi pembuat film untuk mengolah cerita dan menyusun dramatisasi agar pesannya lebih menyentuh hati penonton.
Ama memuji Vania selaku sutradara Negana yang dinilainya sangat berani mengangkat isu berat ini dan mengemasnya dengan begitu indah. Salah satu adegan yang paling berkesan baginya adalah saat Gana dengan tegas memotong rambutnya sendiri sebagai simbol bentuk protes diri. Ia juga menyampaikan pandangan berbeda dari Teddy terkait narasi dan sinematografi film. Bagi Ama, yang juga pernah berkunjung ke Sulawesi Tengah, penyusunan alur cerita serta visualisasi latar tempat dalam film ini sudah cukup berhasil menggambarkan realitas setempat.
Di akhir tanggapannya, Ama menyuarakan pertanyaan senada dengan Zaki kepada Bagas mengenai alasan di balik pemilihan film Negana.
Forum kembali dibuka untuk penonton lain. Mas Langkah mengacungkan tangan dan menambahkan analisisnya mengenai simbolisme menarik di dalam film. Ia menyoroti keberadaan Uku, kura-kura peliharaan Gana yang selalu dibawanya ke mana pun ia pergi. Kura-kura tidak membutuhkan rumah untuk pulang karena rumah itu menyatu dengan dirinya sendiri. Kura-kura hidup di dalam cangkangnya sejak lahir, dan seiring ia tumbuh, cangkang itu kian mengeras menjadi ruang aman yang dapat diandalkan.
Mungkinkah Uku merupakan perlambang dari harapan Gana?
Langkah melanjutkan pengamatannya mengenai makna gempa di dalam film. Menurutnya, terdapat dua makna gempa yang dihadirkan. Pertama, gempa bumi sebagai bencana alam yang menjadi latar belakang dan pemicu mula cerita. Kedua, gempa sosial yang hadir setelah bencana fisik terjadi. Diperlihatkan bahwa pascabencana, ada gempa lain yang tersembunyi di dalam diri setiap manusia. Dalam Negana, krisis sosial ini diwakili oleh guncangan hidup sang tokoh utama, Gana. Kehidupannya goyah, tubuhnya nyaris roboh, dan ruang pribadinya dirampas. “Saya pikir Mbak Vania cukup jeli dan tekun dalam menyusun penceritaan. Hal itu terbukti dari bahasa visual film yang tidak bertele-tele dalam dialog serta efektivitas simbol yang digunakan,” imbuh Langkah.
Akankah gempa yang melanda dirinya terjadi selamanya?
Senada dengan Ama, seorang penonton bernama Anca turut menyampaikan apresiasinya kepada sutradara atas dedikasi dan keberaniannya memproduksi film ini. Menurutnya, Negana berhasil memberikan gambaran yang jelas mengenai problematika pernikahan usia dini di daerah bencana, sekaligus memicu kesadaran bahwa masalah serupa bisa jadi marak terjadi di berbagai pelosok Indonesia tanpa pernah terekspos.
Anca membagikan informasi berdasarkan riset sosial yang dilakukan rekannya mengenai pernikahan dini di Sulawesi Tengah, yang umumnya dilatarbelakangi oleh tiga faktor utama: ekonomi, pergaulan, dan pendidikan. Orang tua kerap mengambil jalan pintas dengan menikahkan anaknya untuk meringankan beban ekonomi keluarga, dengan harapan si anak dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik. Faktor kedua adalah pergaulan, tidak sedikit remaja yang terpaksa menikah akibat kehamilan di luar nikah demi menutupi rasa malu keluarga. Faktor ketiga adalah pendidikan, rendahnya tingkat pendidikan di daerah terpencil membuat paparan informasi mengenai dampak buruk pernikahan dini sangat minim, sehingga kesadaran masyarakat terhadap isu ini masih sangat rendah.
Hal senada ditegaskan kembali oleh Ibu Rahma berdasarkan pengalamannya sebagai bidan desa di Sulawesi Tengah. Banyak anak usia 14–15 tahun atau lulusan SMP yang sudah mengalami kehamilan dan persalinan, lalu dinikahkan karena himpitan ekonomi. Faktor-faktor tersebut kerap saling tumpang-tindih dalam kehidupan mereka. Ia juga menilai bahwa program pemerintah seperti GENRE (Generasi Berencana) belum dirasakan dampak nyatanya di lapangan.
Lana kemudian mengalihkan perhatian kembali pada perdebatan antara format fiksi dan dokumenter. Baginya, mendebatkan format mana yang paling sesuai sudah tidak lagi relevan karena karya tersebut sudah selesai diproduksi dan diangkat dari realitas berbasis riset. Hal yang lebih penting saat ini adalah mendalami isi dan wacana yang diusung film, serta mengurai penyebab masalah tersebut masih terus berulang.
Lana menekankan bahwa problematika dalam Negana perlu dilihat melalui kacamata struktural agar diperoleh pemahaman yang utuh dan terhubung. Fenomena pernikahan usia dini harus dibedah secara kompleks: Bagaimana sistem kenegaraan dan kebijakan publik memandangnya? Apakah institusi keagamaan telah memberikan pencerahan yang memadai? Bagaimana sistem pendidikan menjalankan peran edukasi seksual bagi anak-anak? Serta bagaimana arsitektur hunian sementara dirancang agar lebih humanis bagi para pengungsi? Menurut Lana, paradigma struktural ini akan membantu kita mengidentifikasi masalah serta solusinya secara bertingkat, sehingga kita terhindar dari prasangka atau penarikan kesimpulan yang terburu-buru.
Ah, Negana dan Negara…
Sebagai penanggap terakhir, Zidan menyampaikan pengamatannya terkait bahasa visual yang digunakan dalam film. Ia mencatat sedikitnya tiga momen visual yang sangat berkesan. Pertama, momen kesedihan Gana saat dilamar yang dihadirkan tanpa kata-kata gamblang, melainkan lewat susunan shot yang kontras: adegan lamaran berambience bahagia menggunakan teknik L-cut (audio suara lamaran terus terdengar hingga menyeberang ke shot berikutnya), yang menampilkan Gana sedang menangis pilu. Kedua, adegan saat Gana dan Kak Cila duduk berdua memandangi pantai dengan latar belakang anak-anak yang berlarian riang –sebuah gambaran ironis ketika Gana harus memikul beban hidup yang berat di saat anak-anak sebayanya menikmati masa muda. Ketiga, ketika fokus penonton tertuju pada Gana, film menunjukkan bahwa korban krisis ini bukan hanya dirinya, melainkan juga Kak Cila. Ironisnya, Kak Cila yang merupakan korban KDRT masih mampu berdiri tegar untuk mendampingi dan menguatkan Gana.
Para perempuan pemberani…
Sesi diskusi pun berakhir. Bagas menutup acara dengan kembali menegaskan alasannya memilih film Negana. Ia berharap melalui pemutaran film ini, para penonton dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli dan peka terhadap kondisi di sekitarnya. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup sendiri dan akan selalu ada sesama yang membutuhkan pertolongan kita.
Semoga kita semua siap untuk itu.



