Auman Anak-Anak Macan

Auman Anak-Anak Macan

Auman Anak-Anak Macan

Ditulis oleh

Ditulis oleh

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Ditulis oleh

Erlangga Fauzan

Ditulis oleh

Erlangga Fauzan

Permata: Monisme (Film oleh Riar Rizaldi | www.ruasbambunusa.com)

Kita jumpa lagi pada Permata edisi ke-9. Edisi ini spesial untuk memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2026. Pada sore itu, film yang disuguhkan berjudul Anak Macan, film fiksi besutan sutradara Amar Haikal. Film produksi tahun 2025 berdurasi 17 menit ini mengisahkan seorang anak laki-laki bernama Eki yang tinggal di TPA Bantar Gebang, Bekasi. Ia menghadapi kebingungan menjelang perayaan Hari Ibu di sekolahnya, ketika setiap murid diminta membawa benda kesukaan ibu mereka, sementara Eki tumbuh tanpa sosok ibu.

Acara pemutaran dimulai pukul 15.30 WIB, di sore hari yang masih panas terik. Ruangan terisi oleh sekitar 15 penonton. Mereka ada yang datang sendirian, berdua, dan ada pula yang hadir memboyong keluarga beserta anak-anak mereka.

Tujuh belas menit berlalu dan film pun usai. Acara berlanjut ke sesi bincang-bincang. Sesi kali ini cukup berbeda dibanding edisi-edisi sebelumnya karena sutradara maupun perwakilan film tidak bisa hadir langsung. Kendati demikian, hal tersebut tidak menjadi hambatan berarti untuk mengulas film ini. Sesi diskusi akhirnya mengambil fokus pada pengalaman penonton terkait cerita dan dampak yang dirasakan seusai menonton. Walau pada awalnya moderator menodong penonton untuk membagikan pengalamannya, seiring berjalannya waktu sesi ini berkembang menjadi percakapan yang hangat dan intim. Terjadi banyak pertukaran gagasan antarpenonton, mulai dari konsep kreatif, pengalaman mengasuh anak (parenting), kondisi struktural pendidikan, hingga trauma pribadi.

Todongan awal mendarat kepada Pak Yinto, seorang ayah yang datang bersama istri dan kedua anak laki-lakinya. Ia membagikan pandangannya mengenai pengasuhan anak. Menurutnya, mendidik anak adalah pekerjaan berat yang berkaitan erat dengan pengelolaan emosi. Apabila orang tua gagal memahami dan menangkap emosi anak, sang anak akan merasa diabaikan. Ia menambahkan, tokoh Eki kehilangan sosok ibu; bayangkan bagaimana ia harus menerima keadaan, memproses emosi seorang diri, hingga akhirnya berani tampil di depan kelas membawa ingatan tentang ibunya. Hal itu sangat sulit dan tidak mudah dilalui oleh anak seusianya.

Sementara itu, Rangga, seorang mahasiswa perfilman asal ISI Jogja, memiliki misi khusus. Ia mengaku menonton film ini untuk kedua kalinya demi mencari referensi tugas akhir yang bertema serupa. Rangga kemudian bertanya kepada forum mengenai alasan kuratorial edisi kali ini—mengapa film ini yang dipilih untuk merayakan Hari Anak Nasional. Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh Bagas, programmer Permata. Bagas menjelaskan bahwa Anak Macan sangat representatif dalam membicarakan problem anak, salah satunya adalah isu ketidakhadiran peran orang tua dalam menemani dan mendidik anak.

Pertanyaan tersebut dielaborasi lebih lanjut oleh moderator. Moderator melempar tanggapan balik kepada Rangga: apakah karya ini cocok disebut film anak-anak, ataukah film yang membicarakan topik anak-anak namun diperuntukkan bagi orang dewasa? Rangga berpendapat bahwa Anak Macan memang bisa ditonton oleh anak-anak dengan batasan usia tertentu, yakni 13 tahun ke atas. Menurutnya, film ini kurang cocok untuk anak di bawah 13 tahun karena memuat topik sensitif terkait kematian yang belum saatnya mereka konsumsi.

Moderator kembali memancing obrolan dari penonton lain. Komentar datang dari Mas Baitar, mahasiswa Media Rekam ISI Jogja. Dengan tenang dan berhati-hati, ia mengaku membutuhkan waktu sebelum berpendapat karena topik film ini memantik ingatan masa lalu keluarganya yang sensitif. Di akhir penjelasannya, ia sepakat dengan Pak Yinto bahwa seorang anak sangat membutuhkan perhatian dan pengelolaan emosi dari orang tua agar tidak merasa terabaikan. Mas Baitar juga menambahkan bahwa secara bentuk, film ini sudah solid berkat sentuhan pendekatan dokumenter yang memperkuat kesan alami pada cerita.

Forum kembali membuka ruang bagi penonton lainnya. Kali ini giliran Mas Lana, seorang pembelajar media rekam yang juga alumni ISI. Ia menyampaikan opininya dengan berapi-api—nada bicaranya menyiratkan kegusaran terhadap kondisi negeri ini. Lewat Anak Macan, Mas Lana seolah memuntahkan kegelisahan tersebut. Ia membedah posisi medium film dalam kebudayaan melalui kacamata semiotika, di mana produksi simbolik terjadi dan penonton dituntut jeli membaca tanda. Baginya, Anak Macan sebagai film fiksi merupakan cerminan realitas sosial-politik Indonesia: latar tempat pembuangan sampah, lingkungan bermain yang liar, hingga dunia pendidikan yang minim simpati (terlihat dari adegan presentasi yang mencerminkan kebutaan sekolah terhadap kondisi keluarga murid). Secara garis besar, Mas Lana menilai anak-anak kerap menjadi korban struktural dari ketidakbecusan negara dalam mengelola tata pemerintahan dan sistem pendidikan yang menyeragamkan individu hingga mematikan minat serta bakat.

Pak Yinto kembali menambahkan komentarnya mengenai peran negara dalam pengasuhan. Alih-alih membahas situasi politik yang rumit, ia membagikan petuah merawat anak yang diwarisi dari ayahnya: "Apabila ingin negara menjadi baik, mulailah dari hal terkecil dan terdekat, yaitu mendidik keluargamu dengan baik." Sebuah pesan sederhana yang terasa getir.

Selanjutnya, Bu Ratna, penonton setia Permata, turut memberikan apresiasi. Menurutnya, Anak Macan dikisahkan dengan pas tanpa bertele-tele. Film yang minim dialog lisan ini mampu mengoptimalkan bahasa visual sehingga mengajak penonton berpikir tanpa merasa didikte. Ia mencontohkan adegan presentasi Eki yang tidak diperlihatkan sampai selesai melainkan berganti begitu saja, serta pemungkas cerita yang tidak menyajikan penyelesaian secara telanjang. Penutup seperti itu, menurut Bu Ratna, justru berhasil menggambarkan isi hati Eki yang telah menemukan pencerahannya sendiri.

Diskusi berlanjut kembali pada perdebatan mengenai definisi film anak-anak: apakah film bertema anak untuk audiens anak, atau film berisi anak-anak yang diperuntukkan bagi orang dewasa? Di mana posisi Anak Macan? Menanggapi hal ini, Mas Aim merespons pendapat Mas Rangga. Ia menilai hubungan antara Anak Macan dan Hari Anak sangat kuat jika dilihat dari sudut pandang penceritaan. Film ini menurutnya tetap ditujukan untuk anak-anak karena sudut pandang (point of view) yang digunakan murni perspektif anak. Mas Aim menunjuk hadirnya para pemeran figuran dewasa yang hanya muncul sekilas, konflik perkelahian sepak bola yang diselesaikan sendiri oleh anak-anak, hingga adegan presentasi kelas. Pengamatannya menyimpulkan bahwa unsur intrinsik film ini sangat padat dan pas dalam menjalin relasi dengan penonton anak.

Mas Aim juga sepakat dengan Mas Lana mengenai adanya problem struktural. Setiap keputusan politik pada akhirnya berdampak hingga ke level anak-anak—terlihat dari bagaimana negara mengelola sampah dan bagaimana kawasan tersebut menjadi ruang bermain mereka. Ia merasa tersentuh oleh simbolisme dalam film: pada adegan presentasi, anak-anak tidak hanya memperlihatkan kepolosan, tetapi juga harus "mengais-ngais sampah dan ingatan" di tengah gunungan limbah. Sejalan dengan Bu Ratna dan Mas Baitar, Mas Aim mengapresiasi tutur visual film yang tidak cerewet serta sentuhan dokumenternya yang memudahkan penonton masuk ke dalam cerita.

Waktu diskusi hampir habis ketika moderator memberikan kesempatan terakhir kepada Pak Yinto dan Mas Lana. Pak Yinto menanyakan asal-usul judul film karena anaknya penasaran. Moderator menjelaskan bahwa dalam realitasnya, "Anak Macan" merupakan sebutan bagi anak-anak yang tumbuh di TPA Bantar Gebang—mereka yang hidup dan bertahan di lingkungan yang keras layaknya macan. Stigma dan atribusi ini dilekatkan terhadap mereka juga karena mereka adalah anak-anak yang dianggap nakal dan liar. Maka karena adanya korelasi yang sama terhadap cerita, film ini diberi judul Anak Macan.

Di detik-detik akhir, Mas Lana menambahkan bahwa Anak Macan mengingatkannya pada serial drama Korea Teach You Lesson tentang reformasi sekolah. Ia menekankan bahwa pendidikan harus dipikirkan secara holistik: meski negara hadir lewat sistem sekolah, peran keluarga di rumah tetaplah kunci utama. Tanpa kemampuan orang dewasa dalam merawat psikis dan emosi anak, anak akan merasa terabaikan dan sulit mengoptimalkan bakatnya.

Akhirnya, acara bincang-bincang usai setelah berlangsung lebih dari satu jam. Kisah Eki dan kerinduannya pada sosok ibu boleh jadi menyapa bagian sensitif di hati kita masing-masing—memanggil kenangan masa kecil bersama orang tua, baik yang manis maupun yang menyakitkan. Namun, bagaimanapun juga masa depan tetaplah bergulir. Tentu tak semua permenungan dan pelajaran dari film ini sanggup tertampung dalam satu tulisan, sebab setiap orang pulang dengan doa dan refleksinya sendiri. Tetapi, satu hal yang harus kita pastikan: beranikah kita memutus rantai pengasuhan yang buruk dan kembali menjadi pembelajar yang penuh rasa ingin tahu seperti saat masa kecil dulu?

Selamat Hari Anak Nasional—untuk anak-anak, dan untuk kita para orang dewasa!

Program Permata adalah inisiatif bulanan yang digagas oleh Ruas Bambu Nusa dan Suara Dewandaru sebagai ruang pengembangan kecerdasan majemuk melalui medium film dan gambar bergerak. Mengedepankan tiga pilar utama—eksebisi, eksplorasi, dan distribusi pengetahuan—Permata menyuguhkan pemutaran film dan membuka ruang yang mendorong apresiasi dan ekspresi lintas disiplin, dari bahasa hingga gerak tubuh.

Program Permata adalah inisiatif bulanan yang digagas oleh Ruas Bambu Nusa dan Suara Dewandaru sebagai ruang pengembangan kecerdasan majemuk melalui medium film dan gambar bergerak. Mengedepankan tiga pilar utama—eksebisi, eksplorasi, dan distribusi pengetahuan—Permata menyuguhkan pemutaran film dan membuka ruang yang mendorong apresiasi dan ekspresi lintas disiplin, dari bahasa hingga gerak tubuh.

Program Permata adalah inisiatif bulanan yang digagas oleh Ruas Bambu Nusa dan Suara Dewandaru sebagai ruang pengembangan kecerdasan majemuk melalui medium film dan gambar bergerak. Mengedepankan tiga pilar utama—eksebisi, eksplorasi, dan distribusi pengetahuan—Permata menyuguhkan pemutaran film dan membuka ruang yang mendorong apresiasi dan ekspresi lintas disiplin, dari bahasa hingga gerak tubuh.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini